Sarjana, sebuah gelar yang amat sangat "keren" saat Orde Baru masih berkuasa. Memang tak berlebihan jika dilihat dari bagaimana proses mendapatkan gelar tersebut. Dimulai dengan mendaftarkan diri pada perguruan tinggi, mengalahkan ratusan bahkan ribuan teman dan saudara dalam UMPTN atau SIPENMARU, lalu harus berhadapan dengan dosen yang berupa-rupa bentuk. Ada yang muda tapi genit, ada pula yang tua tapi killer. Belum cukup sampai disini, seorang pencari gelar sarjana yang sering disebut dengan mahasiswa harus bisa membuat karya fenomenal bernama skripsi. Inilah klimaks dari pencarian gelar sarjana itu sendiri.
Lika-liku proses pencarian gelar sarjana itu sendiri akhirnya sering membuat mahasiswa tahan banting dan semakin dewasa. Mereka menjadi orang-orang hebat yang bisa membawa perubahan bangsa ke arah yang lebih baik. Mulai dari meneliti dan menyelesaikan masalah sosial, memajukan teknologi dan ilmu pengetahuan, serta para sarjana pedagogik yang berusaha memberikan pencerahan dan pembebasan pada setiap anak manusia di negeri ini. Sungguh terlihat amat mulai para mantan-mantan mahasiswa ini.
Cerita tentang kemuliaan mahasiswa dan sarjana memang telah masuk kedalam benak sebagian besar manusia di negeri ini. Paling tidak, di desa-desa--bahkan hingga saat ini--masih banyak masyarakat yang masih menganggap sarjana adalah para mesias yang akan membebaskan mereka dari kemiskinan. Para sarjana ini dianggap telah sukses, memiliki uang banyak, dan minimal memiliki penghasilan diatas rata-rata. Bahkan mungkin saking istimewanya, beberapa orang tua sangat bangga jika anak perempuannya akan dinikahi oleh "Mas Sarjana".
Entah apa yang salah, bayangan tentang sarjana sebagai orang cerdas, maju, dan peduli lama kelamaan berubah menjadi mimpi atau bahkan angan-angan. Mengapa? Ya, karena memang sarjana saat ini bukanlah sesuatu yang istimewa. Tanpa mengurangi rasa hormat dan menyamaratakan semua sarjana, kebanyakan sarjana saat ini hanyalah seonggok sampah negara. Mereka hanyalah penyandang gelar sarjana tanpa kemampuan apa-apa.
Lihat saja di sekitar, berapa banyak sarjana yang tak bisa melakukan apa-apa. Jangankan untuk membawa sebuah perubahan bagi lingkungan. Untuk membawa dirinya ke arah lebih baik saja tidak bisa. Bekerja bagi sarjana hanyalah tentang mencukupi gengsi dan kebutuhan perut semata. Tidak ada dalam benak mereka bagaimana cara membuat negara ini maju. Minimal, memiliki pemikiran yang sama dengan Si Kabul saat teringat teman-teman SDnya dalam Orang-orang Proyek.
Apa yang terjadi saat ini dengan para sarjana memang tidaklah mengherankan. Hal ini jika kaitan dengan berbagai permasalahan di dunia pendidikan. Pertama yaitu menyangkut masalah tenaga pengajar dan pendidik. Nama besar seperti Kuntowijoyo, Koentjaraningrat, Poerbatjaraka, Soemitro Joyohadikusumo, Habibie, Emil Salim, dan Frans Seda hampir tak ada penerusnya. Beberapa kampus negeri malah berisi para dosen karbitan. Mereka menjadi dosen bukan karena kemampuan namun karena keterikatan persaudaraan atau kedekatan emosional. Akhirnya, alih-alih bisa memacu mahasiswanya agar menjadi ilmuwan, para dosen karbitan ini justru membuat mahasiswa malas dan tak memiliki kemampuan. Permasalahan ini tambah lagi dengan jiwa miskin yang dimiliki oleh dosen-dosen karbitan itu sendiri. Demi proyek bernilai ratusan juta, mereka rela hanya masuk 4 kali pertemuan dari yang seharusnya minimal 12 kali pertemuan.
Kondisi ini diperparah lagi dengan adanya sistem akreditasi jurusan, fakultas, dan universitas. Demi mempertahankan agar akreditasinya A, jurusan-jurusan sering melakukan tindakan memalukan. Tindakan itu meliputi mempercepat studi mahasiswa, menginstankan proses pembelajaran, dan mengkatrol nilai. Jadi jangan kaget ketika nantinya pada setiap periode wisuda mahasiswa, gelar wisudawan terbaik akan jatuh ke jurusan dengan akreditasi C. Mengapa demikian? Ya karena jurusan itu akan membuat kuliah menjadi proses belajar murahan. Lupakan kata skripsi sebagai sebuah karya yang fenomenal. Lupakan juga nilai A didapatkan dengan belajar dan diskusi mati-matian. Kalau boleh dikata, kambing saja akan lulus di jurusan seperti ini asal membayar kuliah, tidak melawan dan masuk kelas setiap hari. Masalah skripsi bagaimana? Gampang, bisa membeli di jasa pembuatan skripsi. Pendadaran? Tenang, itu hanya dagelan.
Lalu, apa keabal-abalan sarjana juga hanya kesalahan dosen dan sistem akreditasi. Tentu tidak. Permasalahan utama berada di mahasiswa itu sendiri. Sungguh, buruknya dosen dan sistem akreditasi tidak akan berarti apa-apa jika mahasiswa tidak gagal paham dalam kuliah. Kuliah bukanlah cara untuk mendapat pekerjaan lalu bisa hidup bergelimang harta. Bukan juga untuk dielu-elukan ketika menjadi wisudawan terbaik atau mahasiswa berprestasi dengan IPK 4.00. Kuliah adalah sebagian dari proses belajar dalam hidup. Melalui kuliah seharusnya kita bisa tahu bahwa kebodohan dan korupsi yang terjadi di negeri ini bukan disebabkan karena kita dijajah Belanda. Akan tetapi, kebodohan dan korupsi yang terjadi merupakan akumulasi dari buruknya mental dan lemahnya sistem. Selain itu, minimal, sarjana bisa berbeda pola pikirnya dibanding mereka yang hanya berboncengan 3, suka berkelahi ketika menonton dangdut di desa-desa, dan hanya pasrah dengan keadaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar